Jumat, 20 Desember 2013

10 Catatan Waktu #3

#21
Dalam kehidupan, manusia pasti akan melewati fase-fase yang berbeda. Ya, aku merasa juga begitu. Entahlah, aku pikir mungkin Alloh sedang memberikan pembelajaran-pembelajaran yang lain agar aku bisa semakin lebih baik. Karena untuk menjadi orang yang lebih baik, butuh proses. Tak bisa instan. Dan ku pikir fase-fase yang kita lalui saat ini adalah sebuah proses.
(06 :19)

#22
Bahwa hakikatnya hasil dari apa yang kita lakukan itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan proses yang kita lalui. Karena proses itu telah membelajarkan kita banyak hal. Sedangkan hasil? Ah, memang manusia seringkali terjebak denga paradigma melakukan ini itu untuk beroleh hasil yang memuaskan. Tapi justru pada prosesnya, seringkali manusia terjebak pada jalan-jalan yang berbelok demi mendapatkan hasil. Bisa jadi proses-proses yang dijalani sudah mendzalimi yang lain. Proses yang dijalani sudah mengubah niatan awal; dari niat mulia menjadi niat karena eksistensi; duniawi. Oh… beginikah manusia?
(06 :24)

#23
Kita berdakwah itu bukan  untuk mendapatkan pengikut. Hakikatnya dakwah adalah menyampaikan haq; mencegah kebatilan. Seringkali kita sebagai da’I ingin menyerah; berputus asa, ketika apa yang kita lakukan bertahun-tahun (yang menurutku kita itu adalah waktu yang lama) tidak berefek sama sekali dengan objek dakwah yang ada di sekeliling kita. Ingin kita beralih; berpindah; berhenti. Lah, mau gimana lagi? Tapi lagi-lagi teringat dengan apa yang telah dilakukan Nabi Nuh. Beliau yang berdakwah ratusan tahun; 900an tahun… dan hanya mendapatkan 80 pengikut… Bahkan beliau adalah seorang Nabi. Beliau berdakwah siang malam, tanpa henti. Sedangkan kita? Ya, lagi-lagi, inilah kesombongan manusia. Merasa perjuangan kita sudah sebegitu hebatnya; dan ketika mendapatkan ketidaksesuaian dengan harapan; ingin berputus asa, menyerah… Astaghfirullohal’adzim…
(06 : 28)

#24
Seperti air hujan yang menetes di jendela kaca bis yang aku tumpangi. Setiap tetesan membentuk alurnya masing-masing dari bagian atas hingga bagian bawah jendela kaca bis. Menetes perlahan, perlahan, kemudian semakin cepat menyisakan titik-titik kecil pada dinding kaca. Ini adalah sebuah jalan untuk menyampaikan pesan awan ke bumi. Jalan untuk mengatarkan titik air dari langit kembali ke bumi.
(06 :32)

#25
Hmmm, beginilah hidup. Heterogen. Tak sama. Kulihat mobil-mobil mewah yang berlalu lalang di sepanjang jalan menuju RS. Sarjito. Luar biasa. Perkembangan intensitas pemilik mobil begitu banyaknya. Akankah dunia nantinya disesaki dengan keberadaan mobil di setiap sudut jalan? Entahlah! Kutemui pemandangan yang berbeda, berbeda dari deretan mobil di depan motor yang aku kendarai. Tak jauh dari mataku memandang. Seorang bapak yang sedang menggeret gerobak, warna kuning. Jelas, bukan warna kuning bersih. Sudah penuh noda lumpur di sana-sini. Bahkan mungkin sedikit berkarat. Seorang bapak pemulung sampah, kawan! Subhanalloh, bapak yang berjuang hidup untuk diri dan keluarganya dengan memunguti sampah.
(06 :34)

#26
Sebuah kebaikan akan berbuah optimal ketika dilandasi dengan niat ikhlas. Tentu! Tapi ketika hanya niat ikhlas, tanpa modal, apalah artinya. Debu. 
(06 :35)

#27
Alangkah indahnya, ketika diri ini selalu meniatkan akhirat untuk semua hal. Tak ada prasangka; semuanya lillah. Menjalaninya dengan penuh kesyukuran; tanpa beban. Tapi terlalu sering keimanan berada pada puncak bawah kurva.  Iman melemah. #Astaghfirulloh
(06 :36)

#28
Ini adalah tentang ukhuwah. Hari ini aku belajar tentang itu. Bahwa ternyata ukhuwah adalah barang yang mahal. Tak ternilai oleh materi. Ukhuwah, mengikatkan hati yang satu dengan hati yang lain. Ya, memang. Ini adalah perkara ikatan hati. Tak hanya sekedar ikatan fisik
. Karenanya ada hak-hak yang perlu ditunaikan di sana. Dan terkadang, hak itu khilaf untuk ditunaikan. Bukan apa-apa, memang karena masing-masing punya egoisme ghirah amanah. Egoisme itu bukan satu hal yang salah. Bukan. Hanya saja di tengah-tengah aktivitas yang begitu luar biasa itu, luangkanlah meskipun hanya satu jam dua jam untuk itu. Menunaikan hak ukhuwah.
(06 :38)

# 29
Mendapat pencerahan dari ustdaz pengisi tarwih… Beliau sampaikan, bahwasanya semangat para sahabat Nabi dahulu tentang ibadah-ibadah mereka. Adalah, “Biarkan surga yang mendekat kepada saya. Bukan saya yang mendekat ke surga”. Subhanalloh… Bagaimana dengan diri kita? Memang bukan pada perkara jenis amal apa yang kita lakukan (sholat, tilawah, puasa, hafalan). Bukan pada jenisnya, tapi pada perkara semangat untuk mengambil peluang berbuat kebajikan. Orang beriman, maka ia tak akan menunda kebaikan sekecil apapun; ia tidak mencari celah untuk bisa menghindar dari melaksanakan apa yang Alloh perintahkan…
(06 : 47)

#30
Membaca bagaimana kondisi saudara-saudara di Mesir membuat air mata ingin terus menetes. Betapa tidak? Mereka tak bersalah, mereka hanya ingin meminta hak mereka; mengembalikan pemimpin mereka yang telah sah terpilih lewat demokrasi. Tak ada yang lain. Tapi pihak-pihak yang tak suka justru membantai mereka. Tak hanya laki-laki, anak kecil, bayi, wanita, pun diperlakukan demikian.
Ya Alloh, perjnuangan mereka sedemikian rupa. Bagaimana dengan aku di sini?
Seringkali rasa iri menyesakkan dada… Aku di sini seolah hanya melakukan hal-hal sepele; tak seperti mereka yang berjihad dengan penuh peluh; jiwa, dan raga mereka.

(08: 52) 

10 Catatan Waktu #2

#11
Alloh swt, Dzat tempat bergantung satu2nya.. Bukan kepada makhluk! Bukan...
Sehingga pun ketika kita ingin mengeluh, mengadu, meminta solusi.... ya, ke Alloh saja. Dia Yang Menghendaki apa-apa yang terjadi pada diri kita, Dia Yang Mengirimkan "masalah", "ujian" pada kita... Pasti Dia juga yang memiliki solusi. 

Justru seringkali rasa sebal itu hadir ketika kita berharap pada makhluk. Berharap agar si dia bisa membantuku, agar si dia bisa selalu membersamaiku. Tapi ketika kenyataan itu seringkali tak sejalan dengan harapan kita. Dan pada akhirnya, kita tahu hakikatnya. Bahwa memang kita tak boleh terlalu berharap pada makhluk. Ada Dia yang sebenarnya menanti pengharapan kita.
(16:12)


#12
Belajar keikhlasan itu butuh proses...
Gak bisa sekejap begitu saja,,,
Tapi bukan berarti gak bisa,, 
tetap optimis, pasti bisa deh...
Ya, dunia itu hanya sementara; tak sampai terhitung satu hari di akhirat. Ketika ini menjadi sudut pandang, mungkin keikhlasan itu akan mulai bersemi pelan, bertahap...
(17 :52)

#13
Berkontribusi dengan apa yang kita punya, apa yang kita bisa, apa yang kita merasa mampu, apa yang ingin kita lakukan.Tak usah pada titik memaksa diri melakukan sesuatu yang tak ingin dan tak bisa kita lakukan,kecuali kita memang ingin belajar untuk bisa melakukan itu. Kembali kepada “passion” kita, untuk berkontribusi. “Passion”, hal yang memang kita suka, memang kita bisa,,
(16:13)

#14
Alangkah indahnya, ketika diri ini selalu meniatkan akhirat untuk semua hal. Tak ada prasangka; semuanya lillah. Menjalaninya dengan penuh kesyukuran; tanpa beban. Tapi terlalu sering keimanan berada pada puncak bawah kurva. Iman melemah. #Astaghfirulloh
(16:13)

#15
Sabar. Sabar itu butuh pembelajaran. Cepat itu baik, tapi lama itu bukanberarti tidak baik. Mungkin membosankan, tapi kalau kau gunakan, akan mematangkan.
(16:13)

#16
Pesan yang aku dapatkan dari seorang dosen, yang telah menginspirasiku. “Selepas kalian telah usai dari bangku kuliah, maka mengabdilah untuk pendidikan. Tak usah kau hiraukan seberapa banyak gaji yang kalian dapatkan. Tapi yakinlah ketika, niat kalian lurus maka kalian akan dapatkan sesuatu yang lebih.“  Yap, tepat. Toh dunia, bukan selamanya kan? Alloh swt, rasul, dan orang-orang beriman akan melihat kesungguhan usaha kita. Tak usah berharap mendapatkan sesuatu yang besar; dengan ketulusan niat kita insya Alloh, ingin mengabdi untuk Alloh, maka sesuatu yang besar itu akan datang dengan sendirinya. 
(16:13)

#17
“Melakukan sesuatu dengan hati. Coba dengarkan apa kata hatimu.” Sebuah kalimat yang sedikit menohokku. Bahkan tak hanya sedikit, sangat, bahkan. Akhir-akhir ini aku sering merenungi tentang kehidupan yang selama ini aku jalani. Dan kalimat yang barusan itu terlontar dari mulut kawanku, dan bagiku kalimat itu cukup merangkum dari renunganku. Selama ini, aku memang merasa aku seolah tak menikmati hidup. Aku melakukan ini itu, bukan karena itu memang kata hatiku, tapi itu lebih karena peluang yang aku ambil dengan kondisiku yang ada padaku selama ini. Semua-muanya aku lakukan, selama aku sanggup untuk itu. Sehingga seringkali ketika hatiku menolak, aku tak meresponnya. Aku tetap menjalaninya, dan berusaha, ya berusaha untuk menyukainya; bukan karena aku memang menyukainya. Hmm, lagi-lagi belajar tentang kehidupan… cobalah kau dengarkan hatimu berbicara.
(16:14)

#18
Menjadi sebuah perenungan. Hakikat kita sebagai manusia. Kenapakah kita diciptakan di dunia. Alloh bilang, segala sesuatu yang ia ciptakan tak ada yang sia-sia. Termasuk diri kita. Ada peran-peran yang harusnya kita miliki. Sebagai khalifah fil’ardh itu yang sudah semestinya. Seperti yang telah Alloh firmankan dalam ayat suci-Nya ketika berdialog dengan para malaikat. Ketika itu, malaikat begitu merasa khawatir; “Ya Alloh kenapa Engkau hendak ciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan? Menumpahkan darah?” Lalu Alloh berfirman, “Aku jauh lebih mengetahui akan semua hal, dan engkau tidak mengetahui.” Ya beginilah, apa yang telah Alloh inginkan untuk kita. Lalu sudah sejauh manakah peranan kita ketika kita sudah menjalani putaran waktu hingga detik ini? Ya, perlu kembali bermuhasabah diri. Jangan-jangan justru banyak kemudharatan yang telah mewarnai aktivitas keseharian kita dibandingkan dengan hakikat kita seharusnya menjadi manusia.
(5:59)

#19
Penyakit hati itu munculnya seringkali tak terduga. Tapi kemunculannya itu seringkali tak disadari. Tau-tau, ia sudah berdomisili di hati. Uh… ini menyebalkan. Dari penyakit hatilah, seolah apa-apa yang kita lakukan menjadi sia-sia ; berkurang nilainya. Coba kau bayangkan, harusnya kita bisa dapatkan nilai 100 untuk satu hal yang telah kita lakukan. Namun, karena efek penyakit hati bisa jadi nilai itu menjadi 50, atau bahkan hanya beroleh nilai 0. Kita sudah berlelah-lelah untuk itu, tapi tak ada yang kita dapatkan. Hanya sebatas nilai dunia. Bukan nilai akhirat. Uh, penyakit hati ibaratnya noda-noda hitam yang mewarnai putihnya kain. Aku jadi ingat, satu doa yang selalu kita baca dalam setiap sholat. Doa iftitah, “Ya Allah,sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagimana dibersihkan kain putih dari kotoran”. Penyakit hati memang sudah sepatutnya kita bersihkan. Reorientasi niat, inilah kuncinya. Pun memperbanyak istighfar dan memaknai sholat kita. Sudahkah kita berada pada titik itu? Kembali introspeksi…
(06 :10)

#20
Hmmm, berkhusnudzan kepada Alloh, atas apa-apa yang terjadi pada diri kita. Alloh itu Maha Tahu kok dengan kondisi diri kita. Yakin, selalu ada hikmah di balik apa yang terjadi dan menimpa diri kita. Tapi, lagi-lagi, ya memang, awalnya kita mungkin tak menerima, kenapa ini kenapa itu. Namun, mencoba bersabar atas apa yang menimpa kita; itu jauh lebih mulia. Jadi ingat, bukannya sabar itu pahalanya adalah surga? "Dan bersabarlah! Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar."(QS. Al-Anfal:46)
(06 :15)


10 Catatan Waktu #1

#1
Akan selalu ada hikmah di balik peristiwa. Ya, aku semakin memahami arti kalimat itu. Bahwasanya Alloh menakdirkan sesuatu; semua penuh perhitungan! Semua tak ada yang sia-sia.
(13:45)

#2
Manusia hanya bisa berikhtiar dan semua hasil ikhtiar kita, Alloh Yang Menentukan. Alloh yang Memiliki Kehendak, Alloh Yang Punya Otoritas. Manusia tak tahu apa yang jadi kehendak-Nya; manusia hanya bisa menjalani sebagai bentuk kesyukuran atas apa yang Dia berikan.
(16 :16)

#3
Aku mendapatkan ini dari kajian yang aku ikuti.. Tentang tafsir Al Mulk… Beberapa di antaranya adalah bahwasanya segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah kehendak Alloh. Segala sesuatu yang ada di alam diatur oleh Alloh, satu Dzat…
(16 :43)

#4
Tak usah berpikir untuk mendapatkan terima kasih dari orang lain; dari makhluk! Cukuplah lupakan itu dan Alloh yang akan memberikan balasan. Dan pastilah Alloh akan memberikan balasan dengan balasan yang lebih baik.
(11 :15)

#5
Sebenarnya masih banyak hal esensial yang perlu kita pikirkan, tak melulu pada perkara-perkara ego; individu kita. Coba tengok saudara-saudara yang ada di Mesir, Suriah, Palestin, dan saudara-saudara muslim di wilayah lainnya…

Aku tak bisa membayangkan bagaimana tumpah tuahnya perjuangan saudara2 di Mesir sana. Mendengar beritanya saja membuatku merinding; subhanalloh betapa "kerennya" perjuangan mereka. Ya, perjuangan untuk menegakkan yang 'haq'. 

Dan, koreksi kembali untuk diri ini: "ketika mereka di sana berjuan bersimpah peluh, luka, lalu apa yang sudah aku lakukan di sini? di negeri yang katanya begitu "tenang, tentram"? 
(11:15)

#6
Aku berpikir, nampaknya ketika bilangan usia semakin bertambah; maka semakin banyak pertimbangan yang harus dilakukan; menjadi semakin takut untuk melangkah, melakukan ini itu… Hmmm, berbeda dengan masa muda kemarin yang seolah tanpa pikir panjang melakukan ini itu. Aah, aku belum menemukan jawabannya. Tapi kupikir semakin dewasa, sudah seharusnya semakin bijak.
(11 :15)

#7
Beberapa waktu lalu aku sempet menyebar sms iseng ke temen2...
sms untuk menanyakan persepsi mereka tentang kedewasaan."menurut kalian dewasa itu kayak gimana sih?" 
ini dia jawaban temen2.. Ada yang bilang dewasa itu pandai menempatkan diri. Ada juga yang bilang dewasa itu selalu dapat mengambil hikmah dari setiap masalah. Dewasa itu bijak... gentle... Dewasa? Bisa memilah dan memilih serta bersikap.
Dewasa... bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuat dan menjadi tugasnya; dapat menghadapi masalah dengan semestinya; dapat menempatkan diri sesuai kondisi dan tentunyasudah matang dalam hal jiwa dan raga/ mental
Dewasa, udah bisa ngurus dirinya sendiri...
(08 :56)

#8
Ternyata,,, skarang aku tau kuncinya...
Memang banyak hal, banyak tuntutan yang harus kita penuhi...
Emm, tak usah dipikirkan seberapa banyaknya.. tapi just do it, kawan,,,
Tapi, kalau kemudian ada tawaran hal-hal lain yang kita diminta untuk melakukan,,, mnurutku,,,
perlu dipikir2 lagi; dipertimbangkan, jangan asal mengiyakan... 
nanti bikin PHP...
(05 :58)

#9
Alloh yang memberikan qt masalah,, dan Alloh pula yang akan ngasih kita solusi dr masalah itu,,,jadinya sepaket... jangan kuatir.. syukuri itu dan nikmati
(16:19)

#10
Rencana Alloh swt... itu bahkan tak terduga,,

apa yang menurut manusia itu tak mungkin... maka bagi Alloh itu sangat memungkinkan...
so, keep husnudzan sama Alloh . Alloh pasti akan memudahkan urusan hambaNya...
perkaranya adalah kita udah meminta ke Dia belum untuk memudahkan urusan qt?
(16:19)