Senin, 23 Desember 2013

Kajian bareng Mbak Peggy, Melati Sukma; Kita Boleh Kehilangan Semuanya, Tapi Jangan Sampai Kita Kehilangan Alloh!

Ini yang aku dapetin dari acara kajian bareng mbak Peggy kemaren, di acara Jomfest, 22 Desember 2013 di Klebengan. Aaaaa,,, begitu mendengar apa yang beliau sampaikan.. bulu kudukku berasa terangkat semua. Merinding banget ngedenger kisahnya, dan yang jelas bikin aku jadi nangis. Apa yang beliau sampaikan begitu menyentuh. Ya, amat menyentuh bagiku. Yaitu tentang kisahnya bagaimana kemudian akhirnya bisa menemukan Alloh. Ya, menemukan Alloh. Itu adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Yang tak ternilai harganya. Nikmat bisa merasakan hakikat sebenarnya makna iman, islam, dan ihsan.

Awalnya, ketika mau ikut acara ini, aku cuma ngrasa kasian aja... Soalnya di acara Jomfest yang ngundang artis luar biasa masya Alloh, yang dateng ke forum itu bahkan bisa diitung jari. Niat awalnya, cuma pengen ngramein. Ngrasa gak tega... Ah, masak acara sekeren ini yang dateng cuma dikit.Tapi, memang mungkin pada akhirnya aku berkesimpulan orang-orang yang ikut di acara ini adalah orang-orang yang terpilih. Terpilih untuk kemudian bisa mengambil hikmah dari apa yang disampaikan oleh mbak Peggy. Dan finally, aku pun akhirnya mengubah frame berpikirku, bahwa mbak Peggy tak merasakan kekecewaan ketika acara ini berlangsung dan hanya diikuti oleh segelintir orang yang siap mendengarkan. Karena, baginya all apa yang dilakukannya adalah karena Alloh. Maka sudut pandang kuantitas orang yang ikut acara itu gak bermasalah buatnya. Dan, aku bersyukur sekali karena apa-apa yang disampaikan mbak Peggy menjadi penguatanku; motivasiku; atas apa yang saat ini pun sedang aku rasakan.

Ya, selama 20 tahun itu, akhirnya dengan kerja keras, totalitas, loyalitas atas amanah-amanah yang saya lakukan. Saya beroleh semuanya. Kurang lebihnya kalimat itu yang dapat aku tangkap dari apa yang beliau sampaikan untuk pembuka tulisanku ini. Saya, menjadi duta di berbagai cara, duta nasional, bahkan internasional. Menjadi presiden di forum internasional, sibuk di berbagai macam aktivitas sosial. Kesibukan akting; main film. Bahkan pun terjun di dunia pendidikan. Ya, saya beroleh semua dari apa yang saya usahakan. Dan itu karena Alloh Maha Baik. Alloh memberikan hasil sesuai dengan apa yang saya usahakan. Dan bagi saya dan ketika orang menilai semua itu maka itu bukanlah aktivitas yang jelek; tapi itu adalah aktivitas-aktivitas positif. Tapi pun kemudian, dari aktivitas-aktivitas postif; sekali lagi meskipun itu adalah aktivitas positif... maka kita pun perlu untuk sangat berhati-hati. Karena bisa jadi potensi aktivitas positif untuk menggelincirkan hati kita; memelesetkan hati kita jauh lebih besar dibandingkan aktivitas-aktivitas negatif yang jelas-jelas kita bisa mengetahui bahwa aktivitas itu memang negatif dan kita bisa menghindarinya. Kenapa kemudian bisa dikatakan menggelincirkan hati? Karena bisa jadi, justru semua waktu, energi, pikiran kita pada akhirnya justru menyeret kita.. menarik kita untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif kita. Ya, kita tenggelam dalam aktivitas-aktivitas itu. Dan ini kemudian membawa kehilafan, kelalaian pada diri kita dalam hal keimanan kita, sehingga bahkan aktivitas-aktivitas positif kita itu menjauhkan diri kita dari Alloh, ya semakin menjauhkan diri kita dari Alloh. Dan di saat inilah kemudian, nilai keimanan kita menjadi sangat limit. Seolah ibadah-ibadah yang kita lakukan hanya menjadi ritual semata. Hanya menjalankan rutinitas biasa; tidak menginfiltrasi ke dalam hati. Tidak tertanam menjadi pola pikir; paradigama, dan sikap.

Kurang lebihnya begitu.. apa yang disampaikan oleh beliau (Upz maaf itu, kata-katanya aku bahsakan dengan kata-kataku. Soalnya aku tak bisa mengulang persis dengan apa yang beliau sampaikan). Dan pada saat aku mendengarkan kamimat demi kalimat itu, seolah aku menjadi semakin tertohok. Semakin ingin mengintrospeksi diri. Dan semakin teringat dengan semua aktivitas “positif” yang saat ini aku lakukan. Rasanya, aku ingin menangis ketika aku cerna kalimat demi kalimat yang beliau tuturkan. Karena aku merasa apa yang beliau sampaikan persis seperti pemahaman yang baru mulai aku bangun saat ini.

Dan pada akhirnya, saya merasakan masa-masa 2 tahun yang penuh dengan lika-liku; ujian, yang akhirnya menuntun saya, membawa saya kembali kepada Alloh. Ya, kembali kepada Alloh. Masa-masa ini saya alami ketika saya sudah berada pada titik ketika seolah semua yang saya punya, begitu “perfect”, sempurna. Popularitas, eksistensi, karya, bahkan saya pun beroleh pasangan hidup yang bagi orang-orang dia adalah sosok yang hebat. Ya, dan pasca saya berada pada titik itu, kemudian masalah mulai muncul; timbul, bahkan di semua lini kehidupan saya. Dan itu sampai merembet pada masalah pribadi dan keluarga saya. Awalnya saya berusaha menguatkan diri saya sendiri, bahwa saya pasti kuat. “Peggy, kamu kuat! Kamu pasti bisa melampaui semua ini. Kamu pasti bisa hadapi semuanya.” Motivasi-motivasi ini coba saya munculkan untuk menyemagati diri saya sendiri. Tapi, semakin saya memotivasi dengan kata-kata itu, maka masalah tak jua berhenti. Semakin bertambah. Dan hingga akhirnya, semuanya kemudian menyadarkan saya, bahwa semua ini akan selesai ketika saya mengandalkan kekuatan, satu-satunya pada Alloh. Memasrahkan semuanya pada Alloh, menyadari bahwa diri saya lemah. Gak kuat, gak bisa, dan menyadari bahwa solusi semua masalah ini ada di Alloh. Alloh Yang Maha segalanya. Hingga waktu 2 tahun berlalu itu kemudian membawa saya untuk kembali menyadari hakikat kehidupan; membawa saya kembali kepada Alloh.

Semakin merinding aku, ketika mendengar apa-apa yang mbak Peggy sampaikan. Tentang Alloh. Bahwa Yang Maha segalanya adalah Alloh. Manusia lemah, tak berdaya. Tak punya hak untuk sombong. Manusia tak bisa ngapa-ngapain tanpa Alloh. Bahwa solusi semua masalah adalah ada pada Alloh. Memasrahkan semuanya pada Alloh. Lahaulawalaquwwata illabillah.
Alloh Maha Baik, kata beliau. Karena pada akhirnya Alloh cukup membalas 20 tahun saya dengan 2 tahun yang begitu berharga. 2 tahun, yang akhirnya membawa saya untuk benar-benar kembali mempelajari hakikat islam. Dan pada intinya saat ini, saya hanya mengorientasikan hidup saya untuk Alloh semata. Apapun yang saya lakukan di dunia ini adalah untuk Alloh; karena Alloh. Pokoknya Alloh aja. Dan ketika saya sudah memiliki orientasi ini, maka bagi saya  urusan dunia jadi berasa ringan. Dan bagi saya, akhirnya saya merasakan bahwa dunia udah selesai sampai di sini. Ya, karena dunia ini hanya sementara. Akan ada dunia yang sebenernya setelah ini. Pun, ketika semua orinetasi saya tujukan hanya untuk Alloh, maka yang saya dapatkan adalah ketenangan. Ketenangan luar biasa yang saya tak bisa melukiskannya.
Ketenangan, ketenangan, dan ketenangan. Aaaa, ketenangan, ya ketenangan itu yang merupakan puncak kebahagian. Ketenangan karena pada akhirnya bisa merasa begitu dekat dengan Alloh. Alloh Yang Maha segalanya. Alloh Yang Maha besar,maha  menguasai, maha mengetahui. Ketenangan yang merupakan puncak kebahagiaan bagi seorang mukmin. Meskipun ada banyak masalah di depan mata, tapi semuanya jadi begitu terasa ringan.

Kemudian pada closing statemen yang beliau sampaikan, pun begitu menghujam bagiku. Menghujam ke dalam hati. Kata beliau, kita boleh saja kehilangan materi dan apa-apa yang berkaitan dengan duniawi, tapi jangan sampai kita kehilangan Alloh. Jangan sampai kita kehilangan Alloh. Masya Alloh, subhanalloh, alhamdulillah, luar biasa. Kalimat demi kalimat yang begitu membuatku merinding dan menangis.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan (Srh. Hud:15)
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Srh. Hud:16)

Wallohu’alam bisshowab.


(@Medianet 23.12.13; 17:01. Ilmu yang aku dapetin dari mbak Peggy; dengan banyak perubahan struktur kalimat J Tapi insya Alloh intinya sama. Begitu)

Jumat, 20 Desember 2013

Sebuah Keputusan tentang Masa Depan


Lagi, lagi, dan lagi. Entahlah sepertinya Alloh swt sedang menuntunku pada satu jalan. Ya, jalan hidup yang nantinya akan aku lalui. Jalan yang mengantarkanku menuju masa depanku; aku ingin menjadi orang seperti apa.

Aku memang baru pada fase kegalauan, kebimbangan, kekhawatiran, ketidakpastian. Aku masih berada pada persimpangan jalan. Ada banyak jalan terbentang di hadapanku. Tapi, aku masih bingung akan melangkahkan kakiku ke arah mana. Terus terang. Bagiku semua jalan masih dipenuhi dengan kabut pagi yang membuatku tak bisa menatap apa-apa yang terbentang di semua jalan itu. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas; bahkan samar-samar terlihat pun tidak. Ah, begitu misteri bagiku. Aku tak bisa menebak; meraba-raba.

Tapi, hidup tak boleh berhenti sampai di persimpangan. Aku jadi tahu makna; arti pepatah, bahwa hidup adalah pilihan. Dan sekarang aku mengalaminya. Ya, aku mengalami. Dan aku harus memilih. Aku tak mungkin pada keadaan seperti ini terus menerus; bimbang dan galau. Tak boleh. Roda kehidupan terus berputar. Bergegas untuk menentukan.

Passion; ya passion. Itu kuncinya. Itu jawabannya. Jawaban yang kemudian akan menuntunku memilih satu jalan yang tegas bagiku. Jalan yang akan mengarahkan pada masa depanku Passion; adalah satu hal yang bikin hidupmu lebih hidup. Satu hal yang ketika kamu jalani kau akan rasakan kenyamanan di sana. Passion; satu hal yang kamu ingin berjuang mati-matian untuk itu. Satu hal yang bahkan kau rela tak mendapatkan apapun; tapi yang kau dapatkan adalah kepuasan. Passion; satu hal yang kamu memang bisa lakukan itu dan kau akan jadi dirimu ("Inilah aku") ketika kau jalani itu.

21 tahun memang waktu yang lama; ya kau hitung saja. 1 tahun katakanlah ada 365 hari; kalikan saja dengan angka 21. Kalau dalam hitungan jam maka kau perlu kalikan lagi dengan angka 24. Apalagi dalam hitungan yang lebih kecil dari itu; hitungan menit bahkan sekon. Dan kau tahu? Di umur 21 itulah baru aku temukan satu hal yang memang menjadi passionku. Ya, setelah kujalani semua hal yang ingin aku jalani; ingin aku coba; ingin aku lakukan. Aku ingin ini, ingin itu. Berusaha keras untuk memperoleh semuanya. Tapi ternyata tak semua yang bisa aku lakukan; apa yang telah aku coba lakukan; tak semuanya aku rasakan kenyamanan. Ya, meskipun semua bisa aku lakukan. Dan akhirnya baru tahulah aku satu hal yang memang menjadi passionku di umur yang segitu. Dan lagi-lagi aku menyimpulkan; begitulah arti dari kalimat masa muda masa untuk mencoba.

Terkadang aku berpikir... apakah di bilangan usia itu adalah waktu yang terlalu terlambat untuk tahu sebenar-benarnya passionku apa. Terkadang iri melihat bahwa ada orang-orang yang telah menemukan passionnya jauh lebih dulu. Tapi lagi-lagi kemudian aku berusaha menenangkan diri; tak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu. Toh, daripada tidak sama sekali bukan? Aah, asalkan pasca itu kau lakukan semuanya totalitas; sungguh-sungguh, maka tak mengapa. Tinggal lagi-lagi perlu meluruskan niat; apa gunanya melakukan itu. Yang terpenting adalah niat ibadah; lillah; untukNya. Maka Alloh akan berikan jalan. Yakin, kalau Alloh tak menilai dari sejak kapan kita melakukan semuanya sesuai dengan passion kita. Yang Dia nilai adalah niat-niat kita. Niat kebaikan beroleh pahala. Niat kejahatan belum dinilai berdosa ketika belum jadi untuk dijalani.

Ah, lagi-lagi tentang passion. Belum tentu semua orang mengerti tentang itu dan menyadarinya. Memang masa-masa 'kritis', masa-masa 'penentuan' akan dialami oleh setiap orang. Termasuk masa-masa untuk kemudian memilih melakoni passion dengan segenap 'tantangan' atau berada pada zona 'nyaman'; mencari titik aman.

Dan pada akhirnya kali ini ketika aku berada pada persimpangan jalan; maka kupilih jalan yang menantang; keluar dari zona nyaman. Mengikuti apa yang menjadi kata hati. Karena aku suka dengan itu, aku nyaman dengan itu. Meskipun aku tahu; itu berat. Penuh dengan ketidakpastian; kekhawatiran; ketakutan. Tapi aku ingat, aku punya Alloh. Dan lagi, lagi, kuserahkan semua padaNya. Meminta pendapatNya, memantapkan diri dengan berkonsultasi padaNya; meminta ridho-Nya. Alloh, Dia tidak tidur, Dia maha mengetahui, Dia maha melihat, Dia tahu bagaimana pengorbananku, perjuanganku, dan Dia tak akan membiarkan ini si-sia. Dia akan berikan jalan, Dia akan berikan petunjuk dan kemudahan.
***
Aku terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kalangan menengah ke bawah. Aku anak pertama dan adikku ada tiga orang. Yah, tahulah dengan kemampuan ekonomi orang tua yang pas-pasan, maka sedari kecil aku telah dibiasakan untuk hidup 'prihatin". Ya, sejak SD. Aku tak pernah diberi uang saku kecuali kalau ada jadwal olahraga. Masa SMP pun demikian. Aku tak pernah dikasih uang saku kecuali kalau ada jadwal olahraga dan kegiatan sampai sore. Masa SMA; aku ngekos dan lagi-lagi aku hanya diberikan jatah 4000-5000 rupaiah perhari untuk mencukupi semua kebutuhanku; makan, pulsa, perlengkapan sekolah, dan pernak perniknya. Bayangkan saja. Dan di masa kuliah, alhamdulillah ada kenaikan “gaji” per harinya. Aku diberikan jatah 6000 rupiah per hari, tapi itu pun sama saja. Untuk mencukupi semua keperluan. Aah, kalau diperhitungkan dengan detail dari masa itu hingga kini; tanpa nikmat; karunia, dan rizki Alloh, maka itu tak akan cukup. Tapi lagi-lagi Alloh Maha baik, Maha mencukupi, maka semuanya tercukupi bahkan hingga detik ini. Aku masih bisa makan, masih bisa ke sana-sini meskipun serba dengan keterbatasan; ngos-ngosan.

Tapi... aku akhirnya banyak belajar dari ini semua. Keadaan inilah yang membuatku menjadi berpkir kreatif; mencoba segala hal; mencari peluang; ilmu; pengalaman: relasi karena kondisi yang 'kepepet' itu. Dan memang aku sudah dibiasakan itu sedari kecil. Aku ingat sekali, waktu itu aku kelas 2 SD. Aku diminta orang tuaku utuk berjualan ‘kering’ di sekolah; waktu itu aku jual harga 50 dan 100 rupiah. Kelas 4 SD, aku diminta jualan manisan dan arem-arem. Belum lagi di masa-masa itu aku diajak orang tuaku ke pasar dan membantu jualan aneka dagangan; timun, sawi; semangka; melon; kacang panjang; cabai; ya aneka hasil bumi. Kelas 6 aku berinistaif untuk membuat arem-arem sendiri dan menjualnya ke teman-teman kelas. SMP, aku diminta utuk menitipkan makanan 'kering' ke kantin sekolah. SMA, aku berdagang aneka jenis produk. Dari produk yang aku buat sendiri; gorengan, pastel; camilan yang dibungkus 500an, produk chocholatos, gerry, rechese. Aah.. aku sampai susah mengingatnya. dan masih lagi, ketika aku duduk di bangku kuliah, usaha jajanan 500an masih aku tekuni ditambah dengan jualan jajanan pasar. jualan pulsa, tupperware, legging, jilbab, yogurt. Jadi reseller. Dan ketika mengingatnya... membuatku semacam bernostalgia dengan pengalaman jualanku di kelas-kelas, menawarkan jualan dagangan ke guru, dosen; jualan keliling.

Tak cukup dengan pengalaman berbisnis saja; aku pun mencoba peluang-peluang lain; mengikuti even lomba nulis; olimpiade. Ngajar privat anak SD, SMP, SMA. Pokoknya peluang apapun yang mendatangkan profit buatku; untuk melanjutkan roda kehidupanku. Yah, aku memang dibelajarkan pada kondisi ‘kepepet’. Uang hidup per hari hanya dapat jatah Rp 4000, sewaktu SMA dan naik sedikit ketika kuliah; Rp 6.000/hari. Aah, rasanya begitu menyedihkan memang. Tapi aku mengambil hikmah positifnya, bahwasanya pada kondisi yang demikian ini aku dibelajarkan dengan banyak hal. Berat memang ketika menjalaninya. Tapi aku yakin Alloh swt sedang mentarbiyahku untuk menjadi pribadi yang tahan banting pada kondisi apapun. Aku bersyukur untuk itu.

Dan benar saja, dengan kondisi yang demikian toh pada akhirnya aku masih bisa bertahan hidup hingga saat ini. Sampai pada titik aku lulus kuliah. Aku bisa merampungkan semuanya; meskipun memang penuh aral melintang di perjalanannya. Tak cuma itu saja sih; dan akhirnya aku pun punya banyak saudara; relasi, dan beberapa sertifikat serta trophy. Lagi-lagi aku harus bersyukur untuk itu.
***
Tapi hidup tak berhenti hanya sampai di situ. Aku masih harus menjalani kehidupanku selanjutnya. Di usiaku yang berbilang 21 tahun ini, dan selanjutnya, ketika aku masih dikaruniakan umur. Menjalani kehidupan, untuk mencetak prestasi-prestasi kebaikan; mencetak prestasi-prestasi untuk kehidupan sebenar-benarnya, “akhirat” Ya, menjadi sebaik-baik pribadi; bisa memberikan banyak kontribusi untuk orang lain.

Di tengah kesamar-samaran persimpangan jalan itu, ketika kabut pagi masih menutupi pandangan mataku di jalan masa depan, maka kemudian aku membuat keputusan. Sebuah keputusan yang menurutku itu beresiko. Keputusan yang telah berkonsultasi pada diri sendiri; mengikuti kata hati dengan meminta kemantapan padaNya. Aku membuat keputusan besar dalam hidupku; mengambil jalan yang sesuai dengan passionku; berbisnis. Memang, aku punya cita-cita untuk menjadi pengusaha besar; meskipun itu tak selinear dengan sejarah studiku. Setelah menimbang-nimbang, mencari pencerahan, dan masih dengan dihantui perasaan takut dan khawatir, maka sampai saat ini aku curahkan semua waktuku untuk berbisnis; mewujudkan mimpi menjadi pengusaha.

SO’JAIM, adalah bisnisku yang ‘kalau tak salah aku menghitungnya’ ini adalah bisnisku yang ke-15 kalinya. Dan aku telah mengalami kegagalan pada bisnis-bisnis sebelumnya. Aku telah bertekad bahwasanya pada bisnis yang ke-15 ini, aku harus berhasil. Meskipun aku tahu ini tak mudah; butuh perjuangan, pengorbanan, totalitas! Seperti yang telah aku alami di masa sebelumnya, di tengah-tengah keterbatasan, tapi aku yakin pasti semua bisa terlampaui. Ya, keyakinan yang bermula dari niat yang baik dan mulia; maka insya Alloh, Alloh akan memberikan jalan, Alloh akan membantu mewujudkan mimpiku. Aamiin.

Di tengah harap, di saat keraguan masih melanda, mengambil sebuah keputusan tentang masa depan; keluar dari zona yang nyaman
26 November 2013 (13 : 50) @So’jaim





10 Catatan Waktu #5

#41
Kembali merenungi apa-apa yang kita lakukan. Mencoba melogika, menalar apa-apa yang kita lakukan selama ini. Ambil nafas sejenak dan kumpulkan semangat baru (16:20)

#42
Semangat itu serumun dengan iman. Bahkan tak hanya serumpun. Karena iman adalah sumber semuanya, termasuk sumber semangat. Ya, semangat itu kadang naik kadag turun. Tak stabil. Kadang menggelora, kadang redup. Kalau ditanya tentunya inginnya semangat itu selalu berada di level atas. Namun sunnatullohnya tak begitu (22 :14)

#43
Jangan fokus dengan kelemahan kita. Tapi eksplorlah kemampuan kita. Optimislah. Fokus pada satu hal. Jangan semua-muanya dilahab, pada satu waktu. Nanti kita hanya akan banyak tahu, tapi tak tahu banyak (08:04)

#44
Memiliki waktu yang longgar, tidak menjamin kesuksesan seseorang dan keberhasilan dia untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Poin yang tepat adalah bagaimana kemudian kesuksesan itu didapatkan dari kelihaian seseorang memanfaatkan wakt. Meskipun ia hanya memiliki sedikit waktu tersisa tapi dia bisa mengoptimalkannya. Itulah jaminan kesuksesan. (17:53)

#45
Ada satu dzat yang memergilirkan masa, memperjalankan awan, mendengar keluh kesah, rintihan hati, mengeahui isi hati, membaa pikiran, mentakdirkan keberadaan seseorang pada satu tempat dan waktu, mempertemukan, dan memisahkan… ya Dialah Rabb, Tuhan Semesta Alam, Alloh swt. Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya Dia, Alloh Yang Maha segalanya (17:51)

#46
Mencari ketenangan dengan senantiasa mengeluhkan padaNya, apa yang bisa dan tak bisa untuk dilakukan. Apa yang telah diperoleh, apa yang gagal diraih… semua-muanya. Tumpahkan itu padaNya. Alloh akan menjawab semuanya. Dia tidak tidur, Maha Mendengar (12:29)

#47
Mempertanyakan ulang kenapa kita melakukan hal ini dan itu… Bahwasanya kita kembali menengok peranan kita sebagai manusia di bumi. Ya, bahwasanya peran manusia di dunia adalah (1) sebagai khalifah (2) ibadah (3) dakwah (22:38)

#48
Bahwa yakinlah, rizki itu tak akan tertukar. Alloh swt sudah menetapkan rizki bagi hambaNya masing-masing.. Tak perlu risau, tak perlu galau, tak perlu iiri, dengki. Tenanglah. Semuanya suda diatur olehNya.  Tinggal kita jemput saja. Dengan ikhtiar-ikhtiar semampu kita. Menjemput rizki pun dengan kembali meluruskan niat. Rizki yang kita beroleh bukan untuk kita banggakan, itu hanya sarana saja. Sarana untuk kita menggapai akhir yang baik di akhirat (06 : 05)

#49
Alloh yang Maha Luas Rizkinya. Tinggal bagaimana kita bermunajat; meminta kelapangan rizki padaNya. Insya Alloh Dia akan berikan. (19 :54)

#50

Masa muda adalah masa untuk semangat mencoba. Mencoba untuk belajar. (19:53)